Pages

Mohon Maaf Lahir Bathin

Kami Keluarga Besar BKB Nurul Fikri Bandung dan Cimahi Mengucapkan Mohon Maaf yang sebesar-besarnya atas segala khilaf selama ini. Moga kita bisa menghadirkan Ramadhan Tahun ini, menjadi Ramadhan Terbaik.

Doa Bersama NF Menghadapi SBMPTN 2014

Doa! Ya Doa, dengan Doa, maka separuh usaha tersebut bisa menjadi sempurna. Karena Usaha tanpa Doa itu percuma, begitu pula Doa tanpa Usaha, juga kurang sempurna. Yuk Ikutan Doa Bersama NF..

Penerimaan Siswa Baru NF 2014/2015 Sudah Dibuka

Untuk kelas 4 - 6 SD, 7 - 9 SMP, 10 - 12 SMA dan Alumni, penerimaan siswa baru NF sudah dibuka, ayo segera daftar dan datang ke NF terdekat. Come Join Us

Siswa NF Lulus SNMPTN 2014

Informasi kelulusan SNMPTN sudah bisa di cek di snmptn.ac.id (boleh klik gambarnya) atau cek juga data siswa nf yang lulus undangan

THI'NK NF 2014

THI'NK NF 2014 adalah Try Out, Hiburan, N Talkshow, yang diadakan untuk Siswa/i Kelas 3 SMA dalam persiapan menghadapi SBMPTN 2014

Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 Agustus 2014

Belajar Dari Cara Elang Menghadapi Badai



Islamedia - Hewan yang paling sering dijadikan pelajaran dalam menghadapi ujian kehidupan adalah elang. Hewan ini punya sikap yang sangat elegan dalam melawan badai.

Elang punya kemampuan mengetahui kapan saatnya datang badai. Dan ketika ia tahu bahwa badai sebentar lagi datang, apakah ia menjauh? Tidak. Justru ia hadapi dengan cerdik.

Beberapa saat menjelang badai datang, elang akan terbang ke titik yang tinggi. Menunggu angin di sana. Hingga badai benar-benar datang, elang merentangkan sayapnya lebar-lebar. Saat itulah angin akan menerbangkannya lebih tinggi lagi. Lebih tinggi dari badai yang mengamuk di bawah. Dan dia terhindar dari badai dengan “mengangkanginya”.

Rabu, 02 Juli 2014

Bidikmisi Bantu Anak Petani Ini Raih IPK 3,93



JAKARTA - Orangtuanya hanya petani. Tetapi Rafika memiliki keinginan kuat untuk melanjutkan studi ke perguruan tinggi.

Pada 2010, lulusan SMAN 1 Bonto, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan ini, pun berhasil masuk Universitas Hasanuddin, Makassar, melalui jalur Bidikmisi. Ketika itu, guru di sekolahnya memberitahukan informasi tentang Bidikmisi dan membantunya mendapatkan beasiswa tersebut melalui jalur Prestasi Olah Raga, Seni, dan Keilmuan (POSK).

"Pertimbangan guru sekolah saya mendaftarkan melalui jalur POSK, karena saya memiliki prestasi di bidang kesenian," ujar Rafika, seperti dinukil dari laman Kemendikbud, Rabu (2/7/2014).

Siswa Berprestasi Mendapat Kemudahan Masuk Sekolah



INILAHCOM, TANJUNGPINANG - Pemerintah Kota (Pemko) Tanjungpinang akan memberikan apresiasi bagi siswa yang memiliki prestasi di bidang agama, seni, dan olahraga berupa kemudahan memilih sekolah yang diinginkan.

"Kita harus memberi penghargaan kepada atlet maupun aktris," ujar Wakil Walikota Tanjungpinang, Syahrul di kantor Dinas Pendidikan dan Olahraga (Dispora) Kota Tanjungpinang.

Syahrul mengatakan, Pemko Tanjungpinang sudah menginstruksikan kepada Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Tanjungpinang, untuk kemudian diteruskan kepada seluruh kepala sekolah (kepsek) di Kota Tanjungpinang, bahwa penghargaan dan perlakuan istimewa diberikan kepada para siswa yang beprestasi.

"Ini sudah memasuki tahun kedua," ujarnya.

Ia melanjutkan, siswa beprestasi itu akan didahulukan pada saat penerimaan siswa baru. Baru setelah itu, dibuka untuk umum. Untuk siswa itu, lanjutnya, telah disediakan kuota sebanyak 20 persen di setiap sekolah.

Jumat, 27 Juni 2014

Lilik, Anak Petani yang Lulus Cumlaude



JAKARTA - Semakin banyak pemuda Indonesia yang berhasil mematahkan ungkapan keterbatasan ekonomi menjadi penghambat berprestasi. Lilik Endrawati menambah panjang daftar tersebut. Berasal dari keluarga petani, dia berhasil menambatkan pendidikan sarjana di Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Lilik mengaku tidak pernah menyangka bisa mendapatkan peringkat terbaik di tingkat Fakultas Ilmu Sosial (FIS) pada wisuda Unesa kali ini. Dia berhasil meraih gelar S.Sos dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,74 dengan predikat cumlaude.

Meski meraih peringkat terbaik, Lilik justru selalu mengingatkan diri untuk rendah hati dan bersyukur atas prestasi tersebut. "Kunci suksesnya karena usaha dan doa. Terutama doa orangtua saya di sana," kata Lilik, seperti dikutip dari laman Unesa, Jumat (20/6/2014).

Rabu, 25 Juni 2014

Remaja 15 Tahun Buat Aplikasi Stetoskop Digital



AMERIKA SERIKAT - Suman Mulumudi menjadi perhatian nasional di Amerika Serikat (AS) karena berhasil membuat peralatan yang dapat menyelamatkan nyawa seseorang. Alat itu dinamai Steth IO.

Ternyata, seperti dilansir New Day, Steth IO adalah sebuah smartphone yang terhubung dengan stetoskop dan monitor detak jantung. Seseorang dapat mendengar dan melihat visualisasi detak jantung mereka menggunakan alat ini.

Steth IO juga dapat menyimpan data yang direkamnya dan mengirimkan data tersebut langsung ke dokter untuk ditindaklanjuti. Aplikasi ini sangat menakjubkan. Tetapi yang membuat cerita ini unik adalah fakta bahwa Suman baru berusia 15 tahun dan duduk di bangku kelas X.

Selasa, 24 Juni 2014

Umur 15 Tahun Kuliah S3


LEICESTER, (PRLM).- Seorang remaja putri, Eugenie de Silva, diklaim sebagai mahasiswa program doktor termuda. Dia menempuh studi politik di Universitas Leicester, Inggris, dengan topik Perang Dunia II.

Remaja berusia 15 tahun tersebut tinggal di Tennessee, Amerika Serikat, namun akan menempuh studi S3 dengan pembelajaran jarak jauh.

Dosen pembimbingnya Mark Phytian mengatakan, "Tidak ada keraguan sama sekali mengenai kompetensinya.”

Phytian, yang mengepalai divisi politik dan hubungan internasional Universitas Leicester-, menyatakan De Silva sudah diwawancarai melalui Skype dan dalam konteks akademis tidak ada pengecualian untuknya

Menurutnya De Silva sangat beradaptasi dan menguasai topik.

Anak Tukang Becak Itu Ditawari Beasiswa oleh Presiden



JAKARTA - Masih ingat Raeni? Sosok putri tukang becak yang menjadi wisudawan terbaik Universitas Negeri Semarang (Unnes) itu sukses membuat haru banyak orang, termasuk Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bahkan, Raeni mendapatkan tawaran langsung dari orang nomor satu di Indonesia itu untuk memperoleh beasiswa studi lanjut ke luar negeri.

Tawaran tersebut disampaikan langsung saat lulusan Pendidikan Akuntansi FE Unnes itu diajak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh bertemu dengan Presiden di Bandara Halim Perdanakusumah, Jumat (13/6/2014) pagi. Raeni menyebut, Presiden akan memberikan kesempatan meningkatkan kemampuan bahasa Inggrisnya lewat kursus.

"Pak Presiden bahkan menyatakan akan mengursuskan saya agar bahasa Inggris saya lebih baik lagi," kata Raeni, seperti dikutip dari situs Unnes, Jumat (13/6/2014).

Tawaran itu juga disampaikan SBY dalam akun twitternya. Dia mengungkap, Raeni akan mengikuti program Presidential Scholarship untuk melanjutkan pendidikan S-2nya di luar negeri.

Kamis, 19 Juni 2014

Gerakkan Potensimu, Temukan Hidupmu


Coba bayangkan, di depan mu ada secangkir teh pahit.

Kemudian kamu menambahkan gula ke dalamnya. Akan tetapi kamu tidak mengaduk gulanya itu.

Apakah mungkin rasa teh itu berubah menjadi manis dengan sendirinya?

Tentu saja tidak.....

Sekarang pandanglah teh itu dalam-dalam, kemudian coba minum....

Apakah berubah rasanya?

Apakah rasa teh itu menjadi manis?

Tentu saja tidak....

Bahkan tehnya mulai dingin dan terus mendingin...

Sedangkan kamu belum juga merasakan nikmatnya.

Usaha terakhir, letakkan tanganmu di atas kepalamu, kemudian berkeliling lah di sekitar cangkir teh sambil berdo'a supaya Allah merubah teh itu menjadi manis.

Saya yakin anda semua sepakat mengatakan bahwa semua usaha seperti itu adalah kegilaan.

Atau ketololan...

Teh itu tidak akan pernah menjadi manis.

Demikian lah hidup ini....dia ibarat secangkir teh pahit.

Kamis, 01 Mei 2014

Wisudawan Ber-IPK 3,96 Itu Diantar Ayahnya dengan Becak


Perhatian para keluarga wisudawan dan puluhan wartawan langsung tersita pada Raeni, Selasa (10/6). Pasalnya, wisudawan dari Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes ini berangkat ke lokasi wisuda dengan kendaraan yang tidak biasa. Penerima beasiswa Bidikmisi ini diantar oleh ayahnya, Mugiyono, menggunakan becak.
Mengapa becak? Ayahanda Raeni memang bekerja sebagai tukang becak yang saban hari mangkal tak jauh dari rumahnya di Kelurahan Langenharjo, Kendal. Pekerjaan itu dilakoni Mugiyono setelah ia berhenti sebagai karyawan di pabrik kayu lapis.  Sebagai tukang becak, diakuinya, penghasilannya tak menentu. Sekira Rp10 ribu – Rp 50 ribu. Karena itu, ia juga bekerja sebagai penjaga malam sebuah sekolah dengan gaji Rp450 ribu per bulan.
Meski dari keluarga kurang mampu, Raeni berkali-kali membuktikan keunggulan dan prestasinya. Penerima beasiswa Bidikmisi ini beberapa kali memperoleh indeks prestasi 4. Sempurna. Prestasi itu dipertahankan hingga ia lulus sehingga ia ditetapkan sebagai wisudawan terbaik dengan Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 3,96. Dia juga menunjukkan tekad baja agar bisa menikmati masa depan yang lebih baik dan membahagiakan keluarganya.
“Selepas lulus sarjana, saya ingin melanjutkan kuliah lagi. Penginnya melanjutkan (kuliah) ke Inggris. Ya, kalau ada beasiswa lagi,” kata gadis yang bercita-cita menjadi guru tersebut.
Tentu saja cita-cita itu didukung ayahandanya. Ia mendukung putri bungsunya itu untuk berkuliah agar bisa menjadi guru sesuai dengan cita-citanya.
“Sebagai orang tua hanya bisa mendukung. Saya rela mengajukan pensiun dini dari perusahaan kayu lapis agar mendapatkan pesangon,” kata pria yang mulai menggenjot becak sejak 2010 itu.
Rektor Prof Dr Fathur Rokhman MHum mengatakan,apa yang dilakukan Raeni membuktikan tidak ada halangan bagi anak dari keluarga kurang mampu untuk bisa berkuliah dan berprestasi.
“Meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi yang kurang, Raeni tetap bersemangat dan mampu menunjukkan prestasinya. Sampai saat ini Unnes menyediakan 26 persen dari jumlah kursi yang dimiliki untuk mahasiswa dari keluarga tidak mampu. Kami sangat bangga dengan apa yang diraih Raeni,” katanya.
Ia bahkan yakin, dalam waktu tak lama lagi akan terjadi kebangkitan kaum dhuafa. “Anak-anak dari keluarga miskin akan segera tampil menjadi kaum terpelajar baru. Mereka akan tampil sebagai eksekutif, intelektual, pengusaha, bahkan pemimpin republik ini,” katanya.
Harapan itu terasa realistis karena jumlah penerima Bidikmisi lebih dari 50.000 per tahun. Unnes sendiri menyalurkan setidaknya 1.850 Bidikmisi setiap tahun.

Sumber : UNNES